Pengalaman Pertama: Jurit Malam Kepincut Sumur

  • 0
Jadi inilah pengalaman  pertama saya yang sebenarnya ingin saya lupakan.

Peristiwa ini terjadi saat saya duduk di kelas 1 SMA dan saya mengikuti ekstrakulikuler Pramuka. Dan petaka ini berawal dari ditunjuknya saya (ditunjuk ya bukan diseleksi huftt) sebagai wakil sekolah saya untuk ikut seleksi Peserta Raimuna Nasional, itu loh semacam kemah akbar pramuka Penegak/Penggalang se-Indonesia. Dan saudara-saudara! seleksi yang saya ikuti ini hanya tingkat kabupaten hehehehe…! Setiap sekolah masing-masing mengirimkan 2 peserta, satu cewek dan satu cowok. Saya nggak tahu kenapa saya yang ditunjuk, mungkin karena badan saya yang terlihat sehat (klo nggak mau dibilang gede hehe..) dibanding temen-temen cewek saya yang lain, padahal saya nggak ngerti sedikit pun tentang pramuka, ikut ekskul pramuka pun cuma ikut-ikutan, Dasadarma pramuka dulu emang saya hafal sekarang udah lupa. Jadi jangan tanya tentang itu ya…!


Singkat cerita berangkatlah saya dan temen sekelas saya diantar sama Pak Kepsek ke lokasi perkemahan. Perlu diketahui lokasi perkemahan yang kami tuju itu Liwa daerah pegunungan yang sangat dingin, saya sudah diwanti-wanti oleh Pembina pramuka saya untuk membawa baju hangat, jaket dan trening yang tebel. Mengingat ini adalah pertama kalinya saya ikut perkemahan, saya sangat excited, membawa baju berlebihan padahal hanya untuk 3 hari 2 malam, nggak ketinggalan perlengkapan mandi dll. Kepsek saya sempet kaget melihat ransel yang saya bawa, kaya mau ke bulan katanya hahahaha….!

Well, hari pertama berjalan lancar. Kami hanya diberi pengarahan tentang cara-cara memanjat tebing, mendirikan tenda, membaca sandi-sandi dan tentunya bernyanyi.
Disini senang…
Disana senang…
Dimana-mana hatiku senang…
Di darat senang..
Dilaut senang…
Diudara  aku paling senang…

Tapi kesenangan itu rupanya segera berakhir, ketika tengah malam sekitar jam 1 malam kami dibangunkan secara tiba-tiba dengan suara yang (aduhhh..belum pernah saya denger sebelumnya) bentakan, hentakan, lolongan, semua suara ada deh pokoknya. Nggak ngerti deh itu suara manusia, apa beneran lolongan anjing. Yang jelas saya terkaget-kaget sampe hendak terkencing-kencing tapi masih bisa saya tahan.  Parahnya sepertinya hanya saya seorang yang nggak tahu kalau bakalan ada acara beginian, karena saya liat peserta yang lain tidur memakai baju pramuka, sementara saya memakai baju tidur yang saya lapisi  trening tebel dan jaket. kaget nggak ketulungan udah pasti, ditambah saya hanya diberi waktu 5 menit untuk berganti pakaian, rasanya pengen nangis, dan pengen tidur lagi hehehe…

Berhubung suhunya dingin banget, lebih dingin dari AC kamar 17 derajat, ngomong aja keluar asep maka dengan pedenya saya memakai baju pramuka tanpa melepas baju tidur dan trening saya dan hanya menggulungnya mengikuti pola baju pramuka, dan sepatu hitam dengan kaus kaki tebel panjang sampe betis. Jangan ditanya bagaimana rupanya, yang  jelas cukup membuat para panitia bengong, melotot dan menahan tawa.

Rupanya kami disuruh jurit malam, berjalan sendirian ditengah dinginnya udara pegunungan, mengikuti rute yang sudah dijelaskan panitia. Omg…apa saya nggak salah denger!  Sepertinya bukan ide yang baik, karena saya juga belum pernah ikut yang beginian sebelumnya. Arrgggg….! Sialnya lagi karena saya salinnya lama maka sebagai hukuman saya disuruh berbaris paling depan yang artinya sayalah peserta putri pertama yang berjalan dibelakang peserta putra pertama yang kebetulan itu si Pandi temen satu sekolah saya.
“Yak silahkan berjalan”  panitia memberi perintah kepada saya. Yang pertama-tama saya lakukan adalah berjalan setengah berlari berharap saya bisa menyusul temen saya si Pandi. Tapi tetap yang terlihat hanya hamparan kebun kopi dan tanaman kubis yang tertutup kabut. Menyadari usaha saya gagal, saya berdiam sejenak. Menurunkan gulungan celana dan baju trening yang saya kenakan, biarlah nampak seperti orang gila, siapa yang peduli yang penting nggak dingin.  Muncul ide untuk menunggu peserta selanjutnya dan berjalan bareng. Tapi itu melanggar aturan yang udah dijelaskan panitia, akhirnya saya memutuskan berjalan perlahan berharap tersusul oleh peserta selanjutnya. 

Tiba di ujung jalan yang ternyata ada panitia yang sudah menunggu dan memberikan arahan untuk berjalan kearah kiri yang ternyata menuju sebuah sekolahan. Suasananya berubah sedikit mencekam, udara dingin nan gelap berkabut, hanya suara jangkrik dan lolongan anjing yang terdengar, satu-satunya sumber cahaya hanyalah dari sinar rembulan. saya berjalan perlahan dengan sedikit gemeteran mengikuti tembok pagar sekolahan. Tiba-tiba…jrebbbbbb….! Syuutttt…..! semua berubah jadi gelap total.  Untuk sesaat saya bingung dan tidak tahu apa yang terjadi, saya hanya merasa terjun bebas, dan mendarat dengan posisi berdiri. Yang ada dibenak saya bahwa ini hanyalah jebakan dan tantangan dari panitia dan saya harus bisa mengatasinya. 

Hal pertama yang saya lakukan adalah merentangkan kedua tangan dan mencoba mencari pegangan, meraba-raba dalam kegelapan. Yang ada hanya semacam kayu-kayu yang berdiri panjang, dan disisi yang berseberangan saya meraba dan tangan saya seperti menyentuh banyak  untaian tali dan saya refleks menariknya, ternyata terputus. Seketika saya panik, meski nggak tau saya berada dimana yang jelas saya sangat ketakutan, pengen nangis tapi udah nggak bisa nangis saking paniknya. Akhirnya saya menjerit sekuat-kuatnya dan meminta pertolongan. Semenit…dua menit…nggak ada yang merespon hanya lolongan anjing yang masih terdengar.  tiga menit…empat menit…arrgggg…pake lama dehhh!
Setelah sekian lama menunggu dan berteriak nggak jelas ( 5 menit terasa lama kan klo kita berada dalam kondisi panik begini). Akhirnya pertolongan itu datang juga, si Pandi teman saya yang datang. Singkat cerita setelah menghubungi berbagai pihak dengan segala upaya dan semua tragedi heboh saya berhasil diselamatkan. 

Ternyata oh ternyata saudara-saudara saya jatuh ke sumur tua sedalam 5 meter yang sudah tak berfungsi dan dijadikan tempat membuang sampah. Rupanya rute jurit malamnya terpaksa dialihkan karena rute yang seharusnya ditempuh terlalu jauh dan banyak anjing berkeliaran, sehingga panitia memutuskan untuk mengganti rute. Ya rute yang saya lalui malam itu, dan sayangnya panitia belum melakukan survey dan tidak tahu bahwa disana ada sumur tua. Yang patut di syukuri saya nggak kenapa-kenapa saudara-saudara cuma lecet-lecet dikit, saya sama sekali nggak keseleo meski terjun bebas setinggi 5 meter.
Setelah kejadian itu saya jadi sedikit populer, “cik yang mana ya? Itu lho yang masuk sumur” huaaaa…..! ya ampyunn….! 

Kejadian itu sampai saat ini meninggalkan sedikit trauma dan nggak-nggak lagi deh ikut-ikutan acara begituan.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...